
Hidup membutuhkan banyak instrumen-instrumen penopang, secara alamiah manusia sudah memiliki piranti kelebihan sejak lahir yaitu akal, hati, dan fitrah. jika kita mengasumsikan kepribadian seseorang dari piranti alamiah* di atas maka kesimpulannya adalah semua manusia mempunyai bakat yang sama karena memiliki anugrah yang sama, sehingga pada gilirannya semua manusia harus muncul sebagai realitas makhluk yang punya perilaku serupa.
di sisi lain manusia terbentur dengan hukum paradoksal, yaitu kenyataan bahwa setiap manusia pada dasarnya memiliki perbedaan kontras kepada manusia yang lainnya, baik secar fisik maupun kejiwaannya. terlepas dari permasalah teori tersebut ada satu hal yang sangat penting menurut saya yaitu cara kita menggunakan potensi yang telah ada pada diri kita sejak lahir atau yang disebut piranti alamiah tadi.
Akal adalah kondisi abstrak dari kerja otak atau semacam jiwa yang memproses penalaran, akal juga seperti empunya yaitu manusia yang butuh makan, akal membutuhkan sesuatu yang memberi stimulus, pengalaman, pengetahuan, ilmu, dsb. Manusia melakukan banyak cara baik sadar ataupun tidak sadar untuk memberikan pengalaman ke otaknya, dan disinilah letak perbedaan yang nantinya akan memilah-milah kepribadian seseorang.
Menurut saya, salah satu makanan otak yang paling lezat adalah buku, anda bisa bertanya kepada orang-orang yang di kamarnya penuh dengan buku-buku bacaan pasti mereka akan sependapat dengan saya, pertanyaan kemudian adalah apakah semua orang suka dengan buku ? jawabannya, bertanyalah pada diri anda ? tapi yang jelas otak kita sangat membutuhkan banyak referensi yang bersifat logis untuk menunjukkan eksistensinya sebagai makhluk intelek.
Ayoo... tunggu apalagi, toko-toko buku banyak membuka pintu bagi anada! atau pameran-pameran buku yang diadakan orang-orang yang peduli, jadilah orang yang mencintai buku.
pertanyaan ?
1. sekarang anda memiliki berapa buah buku ?
2. apa yang anda rasakan setelah membaca buku ?
3. bandingkan perasaan tersebut sebelum anda membaca buku ?
4. berikan pertanyaan sendiri....
*tidak berlaku bagi saudara kita yang diuji dengan kekurangn seperti akal atau mental
malang,230208
Banyak harapan dan cita-cita bagi orang yang kebetulan tidak punya harta materi seperti kami ini, hidup dengan wajar dan penuh kesederhanaan adalah mimpi yang begitu indah bagi kami serta jauh dari intimidasi fisik ataupun psikologis kaum sosial atas. namun kenyataan berkata lain kami harus berlari setiap ada bunyi penggusuran, kami harus terjaga ketika anak-anak kami sakit di gubuk preok karena tidak adalagi orang yang baik hati untuk membantu, kami harus menangis menahan rasa sakit perut karena hari ini tidak ada apa-apa untuk dimakan, kami harus dan kami harus......... hich...hich......